Naah, akhirnya artikel serius pertamaku yang agak nyerempet sekilas sama Marketing. Hahaha…walaupun ngambil Marketing, kok rasanya ga PeDe kalau disuruh nulis tentang Marketing, masih takut salah !!!
Sedikit kali ini mengulas tentang Consumer Insight. Apa sih Consumer Insight itu ? Kalau googling, salah satu yang aku ambil ada di WikiAnswer :
“Consumer insight is a flash of understanding on the part of a marketer regarding an unidentified or unmet need in the marketplace, or a new/better way to satisfy an existing need. It is NOT about a product or service, as Mike suggests. It’s about a consumer need that isn’t being met as well as it could be. The marketer’s challenge, having recognized the insight, is to find a way to capitalize on the thinking that identified the need. That could lead to a product or service, of course, but the insight is independent of the solution.”
Ribet ya ? Simple-nya ajalah, inti dari Consumer Insight adalah keinginan dari konsumen yang perlu digali oleh perusahaan. Nah, meskipun kelihatan simple, hal ini cukup sulit lho !! karena terkadang konsumennya sendiri tidak tahu tentang kebutuhannya sehingga menjadi hal yang tak terkatakan, tetapi kalau sudah di-riset dan di-implementasikan, konsumen akan merasa lebih senang. Nah, Customer Insight ini akan lebih mudah kalau dilakukan pengamatan, bukan melalui kuisioner biasa.
Langsung ke contoh simplenya saja, UK Petra pernah mengadakan lomba bekerja sama dengan Maspion Square ( Tempatnya Giant A Yani itu… ), peserta lomba adalah anak SMA, mereka mengamati para pengunjung Maspion Square dan men-sari-kan suatu hal, apa yang kira-kira dibutuhkan oleh konsumennya. Dan juaranya melihat bahwa banyak pengunjung yang mengendarai motor, lupa dan bingung motornya diparkir dimana. Sehingga mereka merekomendasikan untuk memberi nomer pada tiap lahan parkirnya, alhasil ini mempermudah para pengguna sepeda motor yang kesana.
Contoh keduanya, ini baru aku lihat di Super Indo baru yang ada di Jalan Dharmahusada. Biasanya kalau kita ke supermarket, pilihan keranjangnya selalu ada 2. Trolly yang besar, dan keranjang jinjing yang kecil. Terkadang memang kita hanya belanja sedikit, tapi berat. Contohnya adalah saat belanja buah-buahan. Mau pakai trolly kok kebesaran, mau pakai keranjang kecil kok berat. Jadinya mereka membuat keranjang, tetapi ada “gledekan” nya, seperti model tas travelling itu.
Nah, kalau consumer insight sederhana di restoran apa aja hayoo ? Simple banget, dan bahkan nyaris para owner tidak memikirkannya. Contohnya adalah : tempat menaruh kaki di bawah meja, ada tuh tempat makan yang di bawah mejanya itu tidak ada kayunya yang melintang, sehingga kaki tidak bisa ditaruh, tidak nyaman deh. Lalu keran di wastafel terlalu mundur dan pendek, sehingga saat air keluar dan kita mencuci tangan, tidak nyaman karena tergesek dinding wastafel. Lalu, yang simple lain, tidak adanya pemisahan smoking dan no smoking, yang membuat para non smokers menjadi tidak nyaman dan terpaksa jadi perokok pasif !!!
See, hal kecil bisa membuat konsumen pasti merasa lebih nyaman. Lebih nyaman bisa diartikan lebih puas. Dan lebih puas bisa berlanjut pada pembelian berulang. Pembelian berulang tentu sama dengan besarnya keuntungan bagi perusahaan. Dan memang itu yang akan terjadi kalau kita tahu apa consumer insight !! Wait, bentar lagi ada contoh konkrit probing consumer insight yang diterapkan di suatu gerai makanan, idenya cerdas !! tunggu di tobzmind







nice tob… request ttg selling distribution tob… hahaha… trus sumber’e ntar diambil dari slide cpsm.. hahaha
haha…woke woke…tak pikire sek nys…yang wes ada ya aplikasine consumer insight ini
thanks for visiting..
Wah bener juga, peka terhadap hal-hal kecil bisa melahirkan jurus yang membedakan dengan kompetitor
iya pak,selama ini belajar gitu saya dapatnya :p