Kali ini aku mau melanjutkan postingan yang ini tentang AirAsia sebelumnya. Sesuai janjiku, kali ini kita akan mengupas beberapa alasan bagaimana caranya AirAsia bisa memberikan harga yang tidak masuk akal, yang kadang malah jauh lebih murah dari tiket bis ataupun kereta. Setelah baca artikel ini, mungkin beberapa dari kalian akan berkata ooo…dan mengangguk-angguk, lalu mungkin akan merasa takjub. Tenang, itu normal, saat pertama kali tahu aku juga gitu kok..
Secara garis besar kesuksesan AirAsia, ada beberapa kuncinya, mereka mengerti pasar perjalanan atau penerbangan adalah bisnis yang besar yang akan selalu terus berkembang, mengingat mobilitas manusia semakin tinggi. AirAsia juga mengerti akan pasar Asia yang besar, milyaran orang tinggal di Asia. AirAsia juga mengadopsi sistem yang sudah jelas dan sudah berjalan sukses, dari Amerika dan Eropa, ada maskapai yang lebih dulu sukses, sehingga AirAsia tinggal berjalan sesuai pattern pendahulunya.
Yang menarik adalah ke-EFEKTIF-an, ke-EFISIEN-an, dan KONSISTENSI yang berjalan terus dari atas hingga bawah, dari balik meja hingga saat terbang. Sengaja huruf saya besarkan, karena ini kunci utama low cost carrier,atau bisnis apapun yang mengedepankan cost leadership. Beberapa langkah yang dilakukan AirAsia sehubungan dengan efisiensi adalah sebagai berikut :
- Meniadakan makanan, tetapi mereka bisa membelinya di atas pesawat.
- Penerbangan maksimal 3.5-4 jam ( diluar AirAsia X ) – Memungkinkan AirAsia melakukan perjalanan PP secara langsung dalam sehari, lalu dengan awak kabin yang sama, sehingga tidak ada biaya untuk menginap, juga tidak ada biaya tambahan untuk awak kabin lain, karena awak kabinnya tetap.
- Internet Ticketing – Penumpang didorong untuk membeli via internet, untuk menghindari biaya sewa konter, biaya pegawai penjaga konter, dan juga biaya print dan kertas untuk tiket.
- Mencari Landasan Termurah – Dulu sebelum ada rute ke HongKong, AirAsia mendarat di Macau, dan menyediakan hovercraft ke HongKong yang hanya berjarak 30 menit. Begitu juga sebelum ada di Singapura, AirAsia mendarat di Johor Bahru, dan menyediakan layanan bis ke Singapura. Tentu biaya mendarat di kedua bandara itu lebih murah daripada di bandara ramai seperti Singapura dan HongKong. Andaikata tetap harus mendarat di bandara besar yang mahal, AirAsia sebisa mungkin mengurangi pemakaian Garbarata dan juga mendarat sejauh mungkin dari bandara, karena itu tempat yang termurah. Penumpang bisa berjalan kaki, atau apabila sangat jauh, AirAsia menyediakan bis untuk penumpang.
- Membayar Avtur di Depan – Pengeluaran terbesar tentu adalah bahan bakar, AirAsia melakukan pembayaran dimuka,untuk mengunci harga bahan bakar dan mengantisipasi kenaikan harga bahan bakar.
- Penghitungan CERMAT based on REALITY – AirAsia paham, sebagaimana bisnis penerbangan lainnya, pasti di setiap rute dan setiap jadwal, ada data rata-rata berapa persen okupansi kursi, berapa persen yang tidak terisi. Karena sudah tahu kursi itu tidak akan terisi, AirAsia menjualnya dengan harga murah, Rp 10.000, Rp 50.000, bahkan ada yang pernah ( dengan keberuntungan luar biasa, tentu ) dapat harga Rp 0. Nah, harga murah ini ternyata jadi stimulus bagi banyak orang, yang pada akhirnya masuk menjadi konsumen AirAsia. Siapa mereka ? Mereka yang berbudget rendah, yang biasanya hanya naik bis atau kereta api. Juga mereka yang selama ini ragu untuk memilih tanggal berpergian, gambling untuk harga Rp 50.000 atau Rp 100.000, tentu bukan masalah, daripada beli saat sudah dekat, tetapi kena harga yang lebih mahal Rp 500.000.
- Tidak Beriklan, tapi WOM !!! – AirAsia tidak beriklan besar-besaran seperti maskapai lain yang sampai masuk TV, tetapi lebih mengandalkan testimoni para penumpang yang dapat harga murah. ( iya juga, saya ingat setidaknya saya pernah bercerita tentang harga tiket yang saya dapat dan mengajak orang pergi naik AA, setidaknya ke 30 orang lebih. )
- Community Effect – Berpromosi dengan biaya murah lewat FB dan twitter, ditambah berafiliasi dengan HSBC, sehingga banyak orang yang mengerti promo-promo AirAsia, yang pada akhirnya terkadang menimbulkan impulse buying.
- Uang Mengalir Intern - Karena dia tahu orang-orang travelling ga hanya butuh tiket, tapi juga travel (tournya) dan hotel, maka mereka buat itu..dengan harapan customer membeli juga sehingga uang berputar intern semakin banyak.
Setidaknya hal-hal diatas ini yang memungkinkan tagline AirAsia, “Now Everyone Can Fly “, tetap berjalan. Dan jujur saja, AirAsia akan tetap ada di pikiran saya, dan akan tetap menjadi prioritas saya, karena faktor hutang budi. Tanpa AirAsia, saya pasti belum pernah pergi ke luar negeri hingga saat ini, but it was happen. Because of AirAsia !!!






Katae Air Asia mw ada penerbangan berdiri yaaa???
Salut sama strateginya Air Asia
wah, penerbangan berdiri ? rasanya nda deh Jeff, mereka juga memanusiakan manusia kok
ekstrim banget kalau sampai berdiri..tapi nice try juga sih…kalo memang ada, mau ah nyoba sekali
Penerbangan berdiri adalah gagasan dari CEO RyanAir. Namun sampai saat ini belum ada kejelasan, bahkan sepertinya bakal ditolak oleh otoritas penerbangan.
kok rasanya ga manusiawi yah..soalnya jadi gimana gitu..hehe…tapi kalo ada pengen nyoba sekali sby dps atau sby jkt aja…haha
mantap gann..